Tampilkan postingan dengan label taktik dan strategi catur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label taktik dan strategi catur. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Desember 2010

Berkorban

9 Desember 2008
Mengorbankan buah perwira atau pion merupakan sebuah seni dalam permainan catur. Sebuah pengorbanan permanen pada buah catur harus dilakukan bilamana hal itu memberikan keuntungan posisional, atau memberi keuntungan jangka panjang dalam sebuah pertandingan.
Karena kemarin adalah hari raya Idul Adha, Hari Raya Kurban, maka ada baiknya kita belajar bagaimana melakukan pengorbanan. Yang harus diingat, buah pion adalah prajurit. Sementara buah benteng, kuda, patih, termasuk Ratu adalah perwira menengah dan tinggi. Walau kelas mereka berbeda, tugas mereka semua sama: melindungi keselamatan sang Raja.
Karena itu, komponen prajurit dan perwira juga harus tahu diri. Mereka tak boleh protes jika dikorbankan sang Raja. Karena, satu-satunya tujuan dalam permainan catur adalah kemenangan akhir. Kemenangan dalam jumlah (kuantitas) tak akan berarti apa-apa jika permainan berakhir dengan kekalahan. Terutama saat sang Raja dipaksa bertekuk lutut oleh lawan yang secara kuantitas jumlahnya jauh lebih sedikit.
Berikut ini adalah empat langkah umum yang dilakukan sang Raja (sang pemikir taktik dan strategi perang) sebelum memutuskan mengorbankan perwira atau prajuritnya.
Langkah pertama.  Buat kalkulasi resiko bila harus kehilangan satu buah prajurit atau perwira Anda. Tentukan tujuan jangka pendek (taktis) dan keunggulan bertahap (strategis) saat Anda hendak mengorbankan buah Anda. Tentukan nilai buah Anda, dan putuskan bagian mana dari buah Anda yang paling sedikit akibat buruknya jika dikorbankan.
Langkah kedua, kenali tingkat keahlian Anda bermain catur. Amat lazim bagi pecatur pemula untuk melakukan pertukaran pion, kuda atau patih sebagai bagian penyederhanaan permainan. Sebaiknya Anda tidak tergesa-gesa memutuskan hal ini. Pikirkan lagi. Sebab, sekali Anda kehilangan buah Anda, Anda tak akan dapat lagi memanggilnya ulang terkecuali jika Anda berhasil mempromosikan pion Anda ke kotak akhir, sehingga Anda bisa menukar pion itu dengan perwira melalui jalur promosi.
Langkah ketiga, korbankan buah Anda yang paling lemah jika Anda tak dapat melakukan pertukaran bernilai tinggi dengan segera. Jika Anda mendapat keuntungan permainan saat mengorbankan sebuah pion untuk mendapatkan Ratu lawan, maka lakukanlah. Tarik keluar benteng atau Ratu lawan sesegera mungkin, terkecuali jika manuver itu dapat membuat Anda kehilangan buah yang penting.
Langkah keempat. Jangan ragu melakukan pengorbanan jika hal itu dapat membuat Anda mengirim serangan skak mat ke lawan sebagai imbalan. Salah satu pengorbanan klasik adalah saat patih putih memakan pion di posisi h7 untuk membuat sebuah skak mat ke Raja hitam. (EMC/SM)
Lihat juga:
****

Kramnik, Jalan Panjang Menuju Puncak

13 November 2008
Akhir-akhir ini dia memang lebih banyak menelan kekalahan dari Vishy Anand. Terakhir Kramnik kalah dalam Kejuaraan Dunia Catur dengan selisih 2 poin,  akhir Oktober lalu. Namun, hingga saat ini, Vladimir Kramnik telah tiga kali memenangkan Kejuaraan Catur Dunia. Dan, sampai sekarang, namanya masih berada di lingkaran puncak pecatur elit dunia selama  satu dekade terakhir.
Guna menguak rahasia suksesnya, ChessBase baru saja meluncurkan DVD berjudul “Vladimir Kramnik: My Path to the Top.” Video itu berdurasi enam jam dan dituturkan  langsung oleh Kramnik.
Terlahir tahun 1975 di Tuapse, Laut Hitam, Vladimir Kramnik memulai debutnya di sekolah catur Botvinnik-Kasparov, Rusia. Saat usia 16 tahun, Kramnik sudah masuk Tim Olimpiade Catur Rusia dan mencetak angka 8,5 dari 9 poin maksimal. Hasil itu  merupakan nilai terbaik selama Olimpiade tersebut.
Pada tahun 2000, Kramnik berlaga melawan seorang legenda catur, Garry Kasparov. Nyatanya Kramnik berhasil menggulingkan Kasparov. Kemenangan itu membuatnya berhasil menyabet gelar juara dunia catur untuk kali pertama.
Gelar juara dunia juga berhasil dia raih lagi tahun 2004 setelah mengalahkan Peter Leko. Pada tahun 2006, Kramnik lagi-lagi menyabet juara setelah menyungkurkan juara dunia catur versi FIDE, Veselin Topalov. Kemenangan atas Topalov itu pula yang membuat Kramnik menjadi pecatur pertama yang berhasil menyatukan kembali gelar juara dunia catur.
Di DVD itu, Vladimir Kramnik kembali menengok ulang perjalanan karirnya. Sejak dia masih duduk sebagai siswa kelas rendah sampai ke Kejuaraan Catur Dunia tahun 2006. Dibumbui dengan humor, ia menuturkan perasaan hatinya saat ia menjadi bagian Tim Catur Rusia yang berhasil menyabet medali emas.
Di video itu pula Kramnik dengan jujur merasa seperti menjadi seorang Herkules. Terutama saat ia mengalahkan pelatih sekaligus guru caturnya, Garry Kasparov… (CB/SM)
Lihat juga:

****

Sabtu, 04 Desember 2010

Catur sebagai Peperangan

29 Mei 2008


“Catur adalah perang di atas papan. Tujuan utamanya menghancurkan pikiran lawan.” (Bobby Fischer)
perangPerang, menurut para peneliti di Swedia dan Australia, sama seperti catur. Tak mengherankan jika para peneliti menggunakan catur untuk meningkatkan kemampuan militer dalam perang sungguhan. Terlebih, militer tak selamanya bisa melihat apa yang dilakukan lawan.
Pada abad ke tujuh, sebuah permainan baru lahir di India. Beberapa bidak di permainan ini menggunakan istilah perdana menteri, gajah, perwira, prajurit, pasukan berkuda dan raja. Permainan ini semula disebut chaturanga. Sekarang permainan ini dikenal sebagai permainan catur dan sebuah permainan perang. Bila dulu seluruh variasi catur secara historis menunjukkan taktik pertempuran untuk memunculkan strategi baru, hingga sekarang pandangan itu belum berubah.
Tim peneliti di sekolah pertahanan nasional di Stockholm dan organisasi ilmu pengetahuan pertahanan Australia mempelajari catur lebih jauh untuk memahami bagaimana permainan ini memberi keuntungan dan kesuksesan di bidang militer. Di Swedia, para peneliti menggunakan pecatur sungguhan. Di Australia, para peneliti yang dibiayai oleh militer menganalisa ribuan pertandingan catur virtual.
Tanpa perlu mengucurkan darah, permainan catur berusaha diterapkan dalam teori perang modern. “Kemiripan permainan catur dengan situasi perang sungguhan memang memenuhi banyak aspek,” kata Jan Kuylenstierna, salah satu peneliti Swedia. “Catur melibatkan sebuah semangat perjuangan. Dan istilah-istilah dasar dalam pertempuran seperti menyerang, bergerak dan bertahan.”
Dengan mempelajari catur dan kalkulasi langkah abstrak untuk melakukan skak, para peneliti dapat memahami kekacauan situasi dalam peperangan dan mengidentifikasi faktor-faktor utama yang memenangkan peperangan. “Kekuatan penelitian ini adalah pada tingkat pendekatan abstrak,” kata Jason Scholz, ketua tim periset Australia.
Tim peneliti juga memperlajari standar permainan catur. Dengan memodifikasi variabel kunci, seperti jumlah gerakan dalam tiap putaran, atau pemain dapat melihat seluruh bidak lawan, mereka menyelidiki kaitan penting sebagai faktor utama menerjemahkan situasi pertempuran. Misalnya keunggulan jumlah bidak, keunggulan tempo permainan cepat dan penggunaan serangan tersembunyi.
“Semua menunjukkan fakta bahwa terdapat faktor utama dalam perang gerilya yang juga sama pentingnya. Orang-orang juga berdiskusi tentang kekuatan faktor kecepatan operasi, dan hal-hal sejenis,” kata Greg Calbert, seorang ahli matematika dalam tim Scholz. “Namun hingga kini masih terjadi perdebatan bagaimana menghitung tempo penyerangan. Apakah faktor serangan tersembunyi lebih penting ketimbang tempo penyerangan, ataukah tempo penyerangan lebih memiliki keunggulan numerik? Itulah yang ingin kami ketahui.”
Harus diakui catur dapat memberi informasi banyak tentang teori dasar militer. Namun informasi ini baru memiliki dampak jika bisa menjelaskan bagaimana sebaiknya seorang komandan militer menghabiskan bujet. Apakah lebih baik ia membeli lebih banyak tank ketimbang mempercanggih alat mata-mata? Walau, faktanya, untuk memenangkan perang modern, bujet yang digunakan untuk membeli alat mata-mata jumlahnya semakin banyak.
Memang, terdapat satu perbedaan utama antara catur dan perang. Catur mengabaikan istilah militer soal “ketidakpastian informasi.” Tidak seperti komandan pertempuran yang kerap tak mendapat pasokan intelejen soal jumlah dan lokasi persenjataan lawan, seorang pemain catur dapat selalu melihat gerakan lawan sehingga dapat mencatat semua gerakan. Untuk itu Kuylenstierna dan timnya meminta para pecatur bertanding dengan sebuah tirai pemisah di antara papan mereka.
Dari simulasi ini, tim peneliti mendapat kesimpulan: memiliki lebih banyak “informasi persenjataan” lawan amat bernilai. Apalagi jika kedua belah pihak itu hanya memiliki sedikit pengetahuan tentang lawan masing-masing. “Nilai kekuatan informasi memberi keunggulan dalam situasi yang tak pasti. Dalam situasi ini keunggulan variabel tempo penyerangan jadi lebih kecil,” ujar Kuylenstierna.
Tapi ketidakpastian merupakan persoalan utama dalam perang. Dari segi kepraktisan, meluncurkan sebuah serangan beruntun justru membawa kemungkinan menang lebih besar ketimbang terlebih dahulu mendapat informasi tentang lawan dan situasi pertempuran. Atau, memastikan anda memiliki keunggulan jumlah dari lawan. “Apakah temuan ini akan membawa pengaruh pada militer Swedia saya tidak bisa memastikan. Tapi mereka membiayai penelitian kami,” aku Kuylenstierna.
Sementara, tim peneliti Australia membuat sebuah perangkat lunak baru agar para pemain virtual dapat memainkan puluhan ribu pertandingan. “Kami telah menulis ulang secara ekstensif kode-kode catur, kami bekerja keras untuk itu,” tutur Calbert. Seperti juga variabel tempo penyerangan, perencanaan dan kekuatan militer, mereka juga melihat pentingnya faktor serangan tersembunyi, dan tingkat “jaringan” antara bidak-bidak.
Mereka juga menemukan dari sekian variabel penting itu, tempo penyerangan secara cepat memiliki kekuatan terpenting, khususnya jika diikuti kombinasi sebuah “perencanaan mendalam.” Perencanaan mendalam pada setiap gerakan/manuver, membuat tim peneliti berhasil membangun “pohon” kemungkinan sebagai jalan strategis untuk memenangkan pertempuran.
“Sebuah rencana mendalam yang dipadukan dengan kecepatan, memungkinkan pemain memenangkan pertandingan,” kata Calbert. Secara umum, perencanaan mendalam plus kecepatan penyerangan biasanya selalu sukses. Ini juga berlaku meskipun jika lawan lebih unggul dalam jumlah bidak/personil/persenjataan.
Lalu bagaimana pendapat para ahli? Pensiunan Wakil Kepala Staf Angkatan Udara Australia Peter Nicholson setuju kecepatan manuver merupakan sebuah kunci kesuksesan militer. “Hal itu sudah menjadi insting para pemimpin perang sejak dahulu kala,” katanya.
“Napoleon adalah pemimpin perang yang mempelopori pengunaan aspek kecepatan dalam peperangan antar negara. Pemimpin Mongolia juga melakukan hal serupa. Mereka menggunakan kekuatan kecil yang bergerak cepat seperti tentara berkuda untuk menggulingkan teori lama tentang keunggulan jumlah personil,” tambah Peter.
Sun Tzu the Art of War
Sun Tzu, penulis buku the Art of War, juga menulis: “Sebuah serangan harus dilakukan dengan kecepatan melebihi rata-rata.” Hal ini menurut Sun Tzu harus dilakukan pimpinan militer jika ingin menang perang.
Penyerangan ke Irak merupakan buah kebenaran pertama kesimpulan yang dibuat dari simulasi catur Jason Scholz dan timnya.
“Kami memperhatikan dengan perasaan bangga perdebatan antara Jenderal Tommy Franks, yang menginginkan penggunaan lebih banyak personil dan persenjataan, sementara Menteri Pertahanan AS Donald Rumsfeld lebih menuntut kecepatan tempo penyerangan yang dilakukan oleh unit-unit tempur kecil,” kata Scholtz.
Berdasar atas hasil simulasi catur, yang lebih menonjolkan kecepatan sebagai sebuah strategi yang lebih menentukan kemenangan, Scholz mengatakan nasehatnya telah sampai ke telinga Menteri Pertahanan AS.
“Pada akhirnya terjadi kompromi,” katanya. “Tapi kecepatan tempo penyerangan sangat memberi keuntungan untuk memberi kemenangan secara cepat di Irak.”
Meski demikian, upaya memenangkan sebuah pertempuran secepat mungkin tidak selalu menjadi strategi terbaik. Scholz menekankan, “Anda barangkali bisa memenangkan pertempuran dengan cepat. Tapi hati dan pikiran penduduk tidak mudah untuk dimenangkan. Dan inilah sumber utama kesulitan terus-menerus yang terjadi di Irak sekarang…” (Guardian/SM)
Lihat juga:
****

Catur, Strategi dan Taktik

26 Mei 2008


Herbeth Spencer adalah orang pertama yang memperkenalkan istilah survival of the fittest, perseteruan abadi sebagai bentuk persaingan untuk bertahan dalam kehidupan. Hal itu ia tuangkan dalam bukunya Principles of Biology pada tahun 1864 alias 200 tahun lebih lalu.
Herbeth Spencer
Menurut Spencer, hukum persaingan dalam bertahan hidup tak hanya terjadi dalam dunia biologi. Tapi juga di dunia ekonomi. Bahkan, Charles Darwin mengungkapkan persaingan untuk terus hidup merupakan hukum besi seleksi sejarah alam semesta dalam teori evolusinya.
Karena itu, boleh dibilang kehidupan manusia dan alam merupakan hasil pertarungan abadi. Siapa yang menang, dia akan terus bertahan. Mereka yang kalah akan tersingkir dan tergilas oleh hukum besi sejarah kehidupan.
Permainan catur barangkali disukai karena mirip dengan simulasi persaingan di kehidupan nyata. Terutama hukum besi alam dan sejarah manusia: survival of the fittest, hukum persaingan untuk terus bertahan hidup.
catur sebagai pertempuran
Dalam dunia persaingan, kebenaran sekalipun tak cukup kuat bagi setiap mahluk hidup untuk terus bertahan. Diperlukan sejumlah syarat lain berupa kekuatan, kecerdikan, keunggulan taktis dan strategis agar tetap bisa bertahan dalam kehidupan. Maka kehidupan, seperti halnya permainan catur, merupakan sekumpulan taktik dan strategi terus-menerus.
Dalam permainan catur –seperti halnya dalam perang fisik, persaingan ekonomi, atau pemberontakan politik– sebuah taktik biasanya diartikan sebagai sebuah langkah segera untuk merespon serangan lawan. Taktik dilakukan untuk membatasi pilihan lawan sehingga meningkatkan keuntungan posisi bagi orang/pemain tersebut dalam tempo sesaat.
Karenanya, pengertian taktik berbeda dengan strategi. Srategi memerlukan beberapa tahapan/langkah untuk memewujudkannya. Karena itu lebih memakan waktu. Tujuannya apalagi kalau bukan mengecoh lawan. Sehingga lawan lengah dan kalah karena lalai mengantisipasi serangan.

(Foto: Lenin dan Maxim Gorky bermain catur)
Tak mengherankan jika para ahli taktik dan strategi dunia menyukai permainan ini. Sebut saja pemimpin revolusi Rusia, Vladimir Ilyich Lenin, atau pendiri negara Kuba, Fidel Castro. Bahkan juga Karl Marx, dan jendral yang sulit dikalahkan dalam pertempuran macam Napoleon Bonaparte.
Untuk itu, tulisan ini akan mengawali tulisan-tulisan lainnya taktik dan strategi dalam permainan catur di medium ini.
in chess we trust
pengasuh
*****
Lihat juga:
****

Jumat, 03 Desember 2010

Catur Sebagai Permainan Strategi

25 Januari 2008
Olahraga catur lebih dari sebuah permainan adu strategi ketimbang sekedar rekreasi dan kompetisi, kata Wolfe Jantz, pendiri Klub Catur di Lembah Antelope.
“Ada banyak hal yang anda bisa pelajari mengenai kehidupan –kapan anda bergerak agresif dan kapan tidak, kapan anda mengambil resiko dan kapan anda harus memberi,” kata Jantz, seorang insinyur untuk Dinas Pemadam Kebakaran Los Angeles.
“Terkadang anda merasa begitu kuat sehingga sadar bahwa untuk mewujudkan kemenangan terkadang anda harus mundur terlebih dahulu,” tambahnya.
Pria berusia 44 tahun ini sudah bermain catur sejak usia muda. “Abang dan saya sering bermain catur saat kami tumbuh bersama. Saya sungguh mengemari permainan itu.”
“Saya menyukai strategi. Lewat catur, saya belajar untuk melihat beberapa langkah ke depan dan secara strategis untuk mendapatkan keputusan paling baik,” kata Jantz.“Ini juga mengajarkan anda untuk tetap bersikap rendah hati. Sebab selalu ada pemain yang lebih hebat dari anda,” paparnya.
Ia mendirikan klub catur tahun 2006 saat ia cuti panjang akibat punggungnya cedera parah saat bekerja sebagai pemadam kebakaran. “Saat itu saya mulai terbiasa bermain catur secara online,” kata Jantz. Ia juga sering bermain catur di Starbucks.
“Saya rasa, amat menyenangkan jika menyaksikan orang-orang bertemu dan bermain catur di sebuah tempat. Jadi saya membangun sebuah tempat untuk itu di Starbucks. Saya kemudian memasang iklan dan mulai menelpon orang-orang,” lanjutnya.
Dengan cara itu, klub catur yang dirintisnya mulai ramai. Dari mulut ke mulut tempat itu menjadi ajang bagi komunitas catur berkumpul.
Setiap hari Rabu sejak pukul 18.00 – 22.00 WIB para anggota bersua setelah menghabiskan waktu di tempat kerja masing-masing. Mereka berkumpul untuk bergaul dan mengakhiri hari dengan mencoba saling mengukir kemenangan dalam sebuah permainan yang mereka cintai.
Para pensiunan, pekerja profesional tingkat menengah dan anak-anak muda berbakat membawa papan catur masing-masing. Kemudian mereka saling menguji taktik dan strategi mereka dengan lawan masing-masing.
Vern Stiles, penduduk Lancaster yang kini berusia 71 tahun, menggemari permainan catur malam yang diadakan sekali seminggu itu. “Saya memperbolehkan permainan catur di kedai kopi saya sebelum saya menikah.”
Menurut Stiles, kegiatan itu amat bermanfaat baginya. Ia mengaku tak pernah merasa setenang itu, karena bisa berdekatan dengan para master catur ulung.
Klub catur itu memang terbuka bagi para master dan ahli strategi catur. Banyak anggota membawa papan karton yang bisa dilipat, serta membawa jam penunjuk waktu.
Menurut Stiles, ada tiga tahap klasik dalam permainan catur: pembukaan –tahap paling mencemaskan bagi pemain untuk menjebak lawan– tahap pengembangan dan tahap akhir.
“Di sini semua orang bisa mengembangkan gaya permainan individualnya,” kata Stiles, yang mengaku kini menyukai permainan liar dan penuh resiko. Terkadang ia menyebut gaya permainannya sebagai “catur yang buruk.”
Sebagian pemain lagi lebih menyukai permainan sabar –mereka mengalahkan lawannya, setahap demi setahap. Beberapa pemain lainnya lebih menyukai gaya penyelesaian secepatnya.
“Gaya kesukaaan saya adalah melakukan pengorbanan sebelum lawan sempat mengkonsolidasikan buah-buah caturnya,” ujarnya. ***