Tampilkan postingan dengan label strategi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label strategi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Desember 2010

Boris Spassky Kunjungi Makam Fischer

12 Maret 2008


Mantan juara dunia catur Uni Sovyet Boris Spassky, mengunjungi makam bekas lawannya, pecatur asal Amerika Serikat (AS), Bobby Fischer. Ia mengunjungi makam bekas lawannya itu Selasa (11/3/2008) waktu setempat di sebuah pemakaman kecil dekat ibukota Islandia.
Spassky
Fischer, yang wafat pada usia 64 tahun bulan lalu, mematahkan perlawanan Spassky dalam sebuah pertarungan keras tahun 1972. Ia kemudian menjadi juara dunia, dan sampai sekarang masih menjadi juara dunia catur satu-satunya asal AS.
Langit bersih mengiringi langkah Spassky di antara tumpukan salju di pemakaman. Ia lalu menabur bunga di makam bekas lawannya itu sebelum menutup matanya sejenak saat berdoa.
“Apa yang Anda pikir tentang titik kehidupan berikut baginya,” ujarnya berseloroh pada reporter yang mengikutinya. Ia kemudian menambahkan, “Kita masih akan melihat apa yang akan terjadi berikutnya.”
Fischer mengalahkan Spassky dalam pertandingan ulang tahun 1992 di bekas negara Yugoslavia. Akibatnya ia mendapat sanksi dari pemerintah AS dan status kewarganegaraannya kemudian dicabut.
Ia lalu menjadi seorang warganegara Islandia setelah berkunjung ke negara kepulauan kecil di Atlantik Utara itu tahun 2005.
Bekas anak ajaib ini di sisa umurnya kemudian menghabiskan waktunya bertempur dengan penegak hukum AS. Terutama atas perlakuan negara super power itu padanya sebagai pemain catur.
Meski keturunan Yahudi, Fischer kerap terlibat dalam gerakan anti-Yahudi dan setelah serangan teroris tanggal 11 September 2001 ia menyatakan ingin melihat AS lenyap dari muka bumi.
Spassky beberapa kali dimintai komentarnya tentang bekas rivalnya ini setelah kematian Fischer. Ia mengatakan bekas lawannya itu adalah seorang pria sejati yang bisa dijadikan seorang kawan sejati.
Bekas juara dunia kelahiran Rusia yang kini menetap di Paris ini, berada di Islandia bersama istrinya untuk ikut berpartisipasi dalam pertandingan catur yang didedikasikan mengenang Fischer.
Bicara pada para reporter di Islandia, Minggu, Spassky mengatakan permainan catur kini tidak lagi sama seperti dulu.
“Dalam permainan catur modern, saya termasuk yang pesimis. Sebab, dalam pandangan saya, komputer sudah menjadi pembunuh utama permainan catur klasik.”(TO/SM)
Lihat juga:
****

Jumat, 03 Desember 2010

Teka-Teki: Membunuh Lawan Dalam Dua Langkah (1)

12 Februari 2008
Ini merupakan sebuah soal catur yang mudah. Tugas putih adalah membunuh raja yang ada di h8 dalam dua langkah brilian. Silahkan menjawab.
Papan soal 1.

***

Kesalahan Membuat Manusia Lebih Baik…

11 Februari 2008
Musik sering disebut bahasa universal. Namun bagi Shawn Moss, penduduk Secaucus, Hudson County, New Jersey, justru caturlah merupakan bahasa universal. Melalui bidak, raja, ratu, dan benteng hitam-putih, permainan ini menyebar ke seluruh pelosok dan menyatukan umat manusia.
ice_chess_jovanka_callum.jpg
Sebagai bukti, Moss menceritakan kisah tentang seorang lawan mainnya pekan lalu.
Moss lalu memperagakan empat jari lawannya saat memakan sebuah bidak, lalu memutarnya keluar-masuk gengamannya sebelum menaruh bidak itu di samping papan caturnya. Lewat peragaan dan informasi yang Moss sampaikan, orang segera tahu lawan mainnya memiliki kelainan fisik.
“Tapi saya harus memberitahu anda,” kata Moss,” laki-laki itu seorang pecatur hebat.”
Dan, di sini tak ada kebohongan tentang siapa yang memenangkan permainan.
Moss lalu bercerita soal pengalamannya bermain dengan orang yang tak dia kenal baik itu di jalan maupun tempat lainnya.
“Saya bermain di bandara. Saya bermain di terminal bus. Lewat catur, saya dapat berjumpa dan bermain dengan sembarang orang meski kami tak saling mengerti karena saya berbahasa Inggris sedangkan lawan saya bicara dengan bahasa lain,” kata Moss. “Namun kami tetap bisa berkomunikasi melalui permainan catur.”
Moss, seorang pria berusia 34 tahun, tak berlaku seperti guru bahasa dalam pengertian klasik. Namun ia merupakan pengajar catur bagi anak-anak di Secaucus selama beberapa tahun terakhir.
Kelas catur biasa diadakan setiap Rabu ketiga setiap bulan di Perpustakaan Umum Secaucus sejak pukul 15.30-17.00, dan rata-rata dihadiri sekitar 6-12 siswa. Moss memperkirakan ia sudah mengajar lusinan anak-anak selama beberapa tahun terakhir.
“Saat saya mengajar,” katanya, “Saya selalu memperlihatkan permainan antara siswa pecatur kuat melawan siswa baru yang masih lemah dalam permainan ini. Hasilnya jelas. Untuk pertama kali, siswa lemah itu akan banyak mengalami kekalahan. Tapi Anda akan lebih banyak belajar dari kekalahan daripada kemenangan.”
Dan apa manfaatnya bagi siswa pecatur tingkat lanjut yang kebanyakan dengan mudah menenggelamkan pecatur baru?
Moss menjelaskan manfaat bagi siswa pecatur tingkat lanjut adalah terus mengembangkan permainannya, sehingga mereka makin mengerti catur, saat mereka menjelaskan aturan dan strateginya ke pecatur pemula.
“Ketika Anda menjelaskan konsep tingkat lanjut ke seorang pecatur pemula, dan pecatur pemula paham apa yang Anda maksud, maka otomatis Anda pun mengerti pada konsep yang Anda ajarkan,” papar Moss.
Sebagai pencinta catur yang selalu membawa kotak permainan kemana pun ia pergi, Moss menyesalkan fakta catur tak diajarkan secara reguler di sistem pendidikan Amerika Serikat (AS). Padahal di 30 negara lebih catur justru mulai diajarkan sejak taman kanak-kanak.
“Jika Anda bandingkan antara AS dan negara-negara itu,” kata Moss, ”nilai rata-rata kami untuk matematika dan sains lebih rendah dari mereka.”
Banyak akademisi dan hasil penelitian menyimpulkan saat catur diajarkan ke kanak-kanak, permainan ini dapat meningkatkan kemampuan anak untuk berpikir abstrak, memilih secara cepat, mengambil pilihan terbaik dari begitu banyak pilihan, membantu berpikir kongkrit, dan membuat fokus pikiran menjadi lebih baik. Demikian menurut Federasi Catur AS.
Pecinta catur lainnya, Benjamin Franklin, memaparkan banyak pelajaran “moral” di permainan ini seperti ia tulis di buku “Autobiography and Other Writings,” sebuah karya yang menurut Moss harus dibaca oleh mereka yang menyukai permainan ini.
Menurut pengamatan Franklin, “Permainan Catur bukan merupakan kesia-siaan, beberapa di antaranya amat berkualitas bagi pikiran, berguna dalam kehidupan manusia, memperkuat moral, sehingga terwujud dalam tingkah laku sehari-hari, untuk kehidupan inilah keajaiban catur dipersembahkan.”
“Saya rasa pelajaran utama yang bisa saya sampaikan ke semua orang, terutama bagi mereka yang baru mengenal permainan ini, adalah kesabaran,” kata Moss. “Di beberapa permainan kekalahan lebih banyak disebabkan karena pemain bergerak tak sabar dan terburu-buru.”
“Satu hal utama yang sering saya ajarkan adalah, jika kamu menyentuh sebuah bidak maka kamu harus menggerakannya segera,” lanjutnya. “Ini seperti juga pengalaman di kehidupan nyata, begitu Anda memutuskan sesuatu hal, terlepas dari baik dan buruk, Anda harus siap menjalani konsekuensinya.”
Walau memandang catur seperti filsafat hidup, Moss sendiri mengaku tak seberapa ingat perkenalannya pada catur.
“Saya rasa saya mulai bermain ketika masih amat muda. Setelah bersekolah saya semakin menyukainya, meskipun saat itu belum ada klub catur,” kenangnya. Ia dan beberapa teman dekatnya kadang bermain saat makan siang. “Dan semakin saya tua semakin banyak saya bermain.”
Sejak saat itu Moss mendapat teman-teman dekatnya melalui permainan catur.
Setahun lalu, saat belajar yoga di sebuah ashram di kawasan New York, seorang peserta wanita senang melihat daftar alamat email yang memasukkan seluruh siswanya. Mereka kemudian sering bermain catur secara online melalui internet dan segera menjadi sahabat.
Moss akan menemui teman-teman barunya beberapa bulan kemudian. Saat ia selesai menyiapkan diri menghadapi Turnamen Catur Terbuka Dunia, yang dijadwalkan akan dimulai musim dingin ini.
Ia berencana paling tidak bermain satu jam sehari sejak sekarang hingga kompetisi itu dimulai.
“Dengan semua hal yang sudah saya pelajari, saya semakin paham semakin banyak yang saya pelajari semakin saya sadar bahwa pengetahuan saya tidak ada apa-apanya,” ujarnya mengenai pengalamannya bermain catur.
Ia lalu melanjutkan, walau siswanya memandang dirinya sebagai master catur, ia akan kembali jadi seorang pemula di turnamen terbuka dunia, saat banyak pecatur lain datang dan memiliki kemampuan lebih dibandingkan dirinya.
Moss sendiri tidak takut kalah. Di atas itu semua, ia yakin kesalahan dan kekalahan justru membuatnya menjadi lebih baik.
****

Catur Sebagai Permainan Strategi

25 Januari 2008
Olahraga catur lebih dari sebuah permainan adu strategi ketimbang sekedar rekreasi dan kompetisi, kata Wolfe Jantz, pendiri Klub Catur di Lembah Antelope.
“Ada banyak hal yang anda bisa pelajari mengenai kehidupan –kapan anda bergerak agresif dan kapan tidak, kapan anda mengambil resiko dan kapan anda harus memberi,” kata Jantz, seorang insinyur untuk Dinas Pemadam Kebakaran Los Angeles.
“Terkadang anda merasa begitu kuat sehingga sadar bahwa untuk mewujudkan kemenangan terkadang anda harus mundur terlebih dahulu,” tambahnya.
Pria berusia 44 tahun ini sudah bermain catur sejak usia muda. “Abang dan saya sering bermain catur saat kami tumbuh bersama. Saya sungguh mengemari permainan itu.”
“Saya menyukai strategi. Lewat catur, saya belajar untuk melihat beberapa langkah ke depan dan secara strategis untuk mendapatkan keputusan paling baik,” kata Jantz.“Ini juga mengajarkan anda untuk tetap bersikap rendah hati. Sebab selalu ada pemain yang lebih hebat dari anda,” paparnya.
Ia mendirikan klub catur tahun 2006 saat ia cuti panjang akibat punggungnya cedera parah saat bekerja sebagai pemadam kebakaran. “Saat itu saya mulai terbiasa bermain catur secara online,” kata Jantz. Ia juga sering bermain catur di Starbucks.
“Saya rasa, amat menyenangkan jika menyaksikan orang-orang bertemu dan bermain catur di sebuah tempat. Jadi saya membangun sebuah tempat untuk itu di Starbucks. Saya kemudian memasang iklan dan mulai menelpon orang-orang,” lanjutnya.
Dengan cara itu, klub catur yang dirintisnya mulai ramai. Dari mulut ke mulut tempat itu menjadi ajang bagi komunitas catur berkumpul.
Setiap hari Rabu sejak pukul 18.00 – 22.00 WIB para anggota bersua setelah menghabiskan waktu di tempat kerja masing-masing. Mereka berkumpul untuk bergaul dan mengakhiri hari dengan mencoba saling mengukir kemenangan dalam sebuah permainan yang mereka cintai.
Para pensiunan, pekerja profesional tingkat menengah dan anak-anak muda berbakat membawa papan catur masing-masing. Kemudian mereka saling menguji taktik dan strategi mereka dengan lawan masing-masing.
Vern Stiles, penduduk Lancaster yang kini berusia 71 tahun, menggemari permainan catur malam yang diadakan sekali seminggu itu. “Saya memperbolehkan permainan catur di kedai kopi saya sebelum saya menikah.”
Menurut Stiles, kegiatan itu amat bermanfaat baginya. Ia mengaku tak pernah merasa setenang itu, karena bisa berdekatan dengan para master catur ulung.
Klub catur itu memang terbuka bagi para master dan ahli strategi catur. Banyak anggota membawa papan karton yang bisa dilipat, serta membawa jam penunjuk waktu.
Menurut Stiles, ada tiga tahap klasik dalam permainan catur: pembukaan –tahap paling mencemaskan bagi pemain untuk menjebak lawan– tahap pengembangan dan tahap akhir.
“Di sini semua orang bisa mengembangkan gaya permainan individualnya,” kata Stiles, yang mengaku kini menyukai permainan liar dan penuh resiko. Terkadang ia menyebut gaya permainannya sebagai “catur yang buruk.”
Sebagian pemain lagi lebih menyukai permainan sabar –mereka mengalahkan lawannya, setahap demi setahap. Beberapa pemain lainnya lebih menyukai gaya penyelesaian secepatnya.
“Gaya kesukaaan saya adalah melakukan pengorbanan sebelum lawan sempat mengkonsolidasikan buah-buah caturnya,” ujarnya. ***