Kamis, 09 Desember 2010

Kisah Sepotong Opor Ayam

Teruntuk Belahan Jiwaku
Oleh:  Anton Medan )*
Istriku!
Dengan senyummu
tegak langkahmu
tekad jiwamu
nurani perasaanmu
membuahkan tawadu’  dan istiqamahku
memacu semangatku mengebu-gebu
menghadapi dunia yang angkuh

Istriku!
Aku selalu bertanya
mengapa keangkuhan dan kejahatan mesti dilahirkan
sementara aku sendiri tidak menyukai kejahatan

Istriku!
Seandainya saja bau masakan tetangga
tidak tercium di hidung anak kita
pasti dia tak merengek minta opor ayam
dan aku tidak perlu mencuri ayam untuknya

Istriku!
Sungguh aku tak pernah menangis
waktu dipukuli polisi karena mencuri ayam
Yang kutangisi hilangnya senyum anak kita
karena tak bisa mencicipi opor ayam
)* Maaf hari ini tak ada artikel catur. Tapi sepenggal puisi jujur bagi sang kekasih dari seorang jagoan yang tobat. Dikutip dari buku Anton Medan, “Pergolakan Jiwa Seorang Narapidanaepisode V MAFIA CINA DARATAN,”penerbit Pustaka Firdaus, April 1997.
****

Kramnik, Jalan Panjang Menuju Puncak

13 November 2008
Akhir-akhir ini dia memang lebih banyak menelan kekalahan dari Vishy Anand. Terakhir Kramnik kalah dalam Kejuaraan Dunia Catur dengan selisih 2 poin,  akhir Oktober lalu. Namun, hingga saat ini, Vladimir Kramnik telah tiga kali memenangkan Kejuaraan Catur Dunia. Dan, sampai sekarang, namanya masih berada di lingkaran puncak pecatur elit dunia selama  satu dekade terakhir.
Guna menguak rahasia suksesnya, ChessBase baru saja meluncurkan DVD berjudul “Vladimir Kramnik: My Path to the Top.” Video itu berdurasi enam jam dan dituturkan  langsung oleh Kramnik.
Terlahir tahun 1975 di Tuapse, Laut Hitam, Vladimir Kramnik memulai debutnya di sekolah catur Botvinnik-Kasparov, Rusia. Saat usia 16 tahun, Kramnik sudah masuk Tim Olimpiade Catur Rusia dan mencetak angka 8,5 dari 9 poin maksimal. Hasil itu  merupakan nilai terbaik selama Olimpiade tersebut.
Pada tahun 2000, Kramnik berlaga melawan seorang legenda catur, Garry Kasparov. Nyatanya Kramnik berhasil menggulingkan Kasparov. Kemenangan itu membuatnya berhasil menyabet gelar juara dunia catur untuk kali pertama.
Gelar juara dunia juga berhasil dia raih lagi tahun 2004 setelah mengalahkan Peter Leko. Pada tahun 2006, Kramnik lagi-lagi menyabet juara setelah menyungkurkan juara dunia catur versi FIDE, Veselin Topalov. Kemenangan atas Topalov itu pula yang membuat Kramnik menjadi pecatur pertama yang berhasil menyatukan kembali gelar juara dunia catur.
Di DVD itu, Vladimir Kramnik kembali menengok ulang perjalanan karirnya. Sejak dia masih duduk sebagai siswa kelas rendah sampai ke Kejuaraan Catur Dunia tahun 2006. Dibumbui dengan humor, ia menuturkan perasaan hatinya saat ia menjadi bagian Tim Catur Rusia yang berhasil menyabet medali emas.
Di video itu pula Kramnik dengan jujur merasa seperti menjadi seorang Herkules. Terutama saat ia mengalahkan pelatih sekaligus guru caturnya, Garry Kasparov… (CB/SM)
Lihat juga:

****

Bukti Ilmiah Keuntungan Bermain Catur (2)

13 November 2008
Pada tahun 1993, penelitian Profesor Stuart Margulies menemukan pengaruh  permainan catur dalam  peningkatan nilai membaca siswa.  Untuk itu, dua kelas telah dipilih secara acak di lima sekolah New York dan Los Angeles.
Para pelajar kelas 3 dan 6 di sekolah itu diberi petunjuk catur dan les  khusus membaca di sebuah kelas untuk setiap sekolah.  Awalnya, terbukti nilai pecatur muda hampir sama dengan nilai pelajar yang berlatih membaca secara khusus.  Namun, pada akhir tahun, terbukti mereka yang menerima les catur kemampuan membacanya jauh lebih tinggi dari nilai siswa yang mendapat les bahasa secara khusus.
Di Marina, California, sebuah eksperimen dengan menggunakan catur menunjukkan, setelah 20 hari berlatih, performa para siswa melonjak secara dramatis.
George L. Stephenson, Kepala Departemen Matematika di Marina JHS, melaporkan 55%  kenaikan nilai tes akademik siswa setelah mereka berlatih catur. Stres saat bermain catur, faktanya,  dapat meningkatkan kepercayaan diri dan kemandirian para siswa.
Laporan dari Sekolah
Menyadari pengenalan catur ke siswa dapat mengungkap bakat tersembunyi para siswa yang tak mampu dijangkau pendidikan tradisional, beberapa sekolah di pelosok negeri kini mulai memasukkan catur sebagai standar kurikulum.
Sejauh ini laporan dari siswa, guru, dan orang tua murid, menunjukkan catur tak hanya bermanfaat meningkatkan prestasi akademik untuk pemecahan masalah matematik dan membaca.
Tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri, kesabaran, menambah daya ingat, berpikir logis, berpikir kritis, pengamatan, analisis, kreativitas, konsistensi, daya tahan, kontrol diri, sikap sportif, menghormati orang lain dan kemandirian.
Amori menuturkan. menganalisa permainan catur dapat mengajar siswa sebuah seni pengambilan keputusan  dan membuat para siswa sadar akan konsekuensi sebuah aksi. Catur juga memperkuat kemampuan siswa berpikir tiga langkah ke depan.
Di New York, sebuah sekolah di daerah kota sekarang mulai memasukkan catur di kurikulum sekolah tingkat rendah. Apalagi mereka sadar biaya mempelajari permainan catur ini amat rendah, tidak seperti olahraga lainnya.
Catur hanya memerlukan meja-kursi, perangkat catur, dan ruangan kecil –tak perlu lapangan luas seperti sepak bola. Contohnya , sekolah Mott Hall, kini memasukkan catur ke dalam kurikulum. Seperti kurikulum matematika dan bahasa Inggris yang mulai diajarkan intensif di kelas empat.
Para guru di Roberto Clemente School di New York malah menyatakan permainan catur tak hanya meningkatkan nilai akademik siswa, namun juga kemampuan siswa bergaul secara sosial.
“Pengaruh-pengaruh itu sedang diteliti,” kata Joyce Brown, wakil pengawas departemen pendidikan khusus. “Tak hanya meningkatkan kemampuan membaca dan matematik, kemampuan mereka bersosialisasi  meningkat secara substansial pula. Penelitian kami menunjukkan anak-anak yang senang menyendiri kini kemampuan bergaulnya meningkat 60% setelah dia tertarik mempelajari catur.” (Bersambung)
Lihat juga:
****

Sabtu, 04 Desember 2010

Bukti Ilmiah Keuntungan Bermain Catur (1)

23 September 2008

Oleh:  Aleksandr Kitsis

Catur dipercaya dapat meningkatkan “otot mental.” Keuntungan akademik permainan ini juga semakin meluas.  Apalagi telah banyak studi membuktikan, catur menambah daya ingat, meningkatkan kemampuan spasial dan keahlian berhitung. Belum lagi peningkatan kemampuan pemecahan persoalan dan memperkokoh logika berpikir.

Karenanya, tak mengherankan jika banyak sekolah di seluruh dunia mulai mendorong pengembangan permainan catur guna peningkatan kemampuan akademik. Apalagi, para peneliti telah menemukan fakta: mempelajari catur secara sistematis meningkatkan kemampuan IQ dan nilai ujian siswa (Dullea 1982; Palm 1990; Ferguson 2000) seperti halnya memperkuat kemampuan matematis, skil bahasa, dan membaca (Margulies 1991; Liptrap 1998; Ferguson 2000).

Catur merupakan jalan menyenangkan untuk mengajar anak-anak bagaimana berpikir dan memecahkan persoalan-persoalan pelik. Dengan demikian tak mengherankan jika makin banyak sekolah di dunia mulai memasukkan catur ke dalam kurikulum standar.

Catur di Belahan Dunia
Sebuah penelitian Dr Albert Frank di Zaire tahun 1973-1974 menemukan anak-anak yang bermain catur memiliki kecerdasan spasial (ruang), numerik (angka), administrasi, dan kemampuan mengarang. Dr Robert memberi catatan bahwa “temuan ini menunjukkan kemampuan itu tak hanya berlaku secara individual, pada satu-dua orang saja, tapi umumnya pada mereka yang bermain catur.”

Temuan Dr Frank menunjukkan mempelajari catur dapat memperkuat kemampuan spasial dan numerik. Hal ini berlaku pada mayoritas pelajar dan –tak hanya pada pecatur kuat– yang mengambil kursus catur dua jam sepekan dalam tempo satu tahun. Penelitian lain pun memperlihatkan permainan catur dapat memperkuat ingatan seorang anak (Artise).

Sebuah penelitian tahun 1990-1992 di New Brunswick, Kanada, segera menunjukkan nilai-nilai permainan catur dapat mendorong kemampuan pemecahan masalah di antara anak-anak (Gaudreau, 1992).

Menggunakan permainan catur di kelas 2 sampai kelas 7 sebagai bagian kurikulum matematika menunjukkan tingkat rata-rata pemecahaan persoalan siswa meningkat drastis dari 62% menjadi  81%.

Keuntungan Catur
Catur juga terbukti meningkatkan kemampuan umum nilai IQ siswa. Dengan menggunakan metode Wechsler Intelligence Scale untuk anak-anak, sebuah penelitian di Venezuela atas 4.000 siswa kelas 2 SD menemukan peningkatan signifikan pada nilai IQ siswa.

Peningkatan ini khususnya terjadi setelah mereka mempelajari catur secara sistematik selama 4,5 bulan. Hasil ini merupakan fakta umum. Walaupun secara sosial-ekonomis dan dari jenis kelamin, anak-anak itu berbeda.
Hasil ini mengejutkan pemerintah Venezuela. Akibatnya, sejak tahun 1988/1989, pemerintah memerintahkan seluruh sekolah di Venezuela mulai  memperkenalkan permainan catur.

Catur di AS
Di seluruh dunia, catur sejak lama sudah dipercaya mampu memperkokoh kemampuan intelektual. Namun baru sekarang Amerika Serikat (AS) mengakui kemampuan catur dalam peningkatan kemampuan kognitif, berpikir rasional, dan penalaran pada anak-anak.

Robert Ferguson dari Bradford, PA School District yang menguji sejumlah siswa kelas 7 sampai 9 (1979-1983), menemukan fakta, setelah menghabiskan 60-64 jam pelajaran catur selama 32 pekan, para siswa menunjukkan kemajuan berpikir kritis secara signifikan.

Penelitiannya menunjukkan hasil Tes Watson-Glaser Thinking Appraisal naik 17,3% pada anak-anak yang mengikuti kelas catur. Sementara peningkatan ini  hanya 4,6% bagi anak-anak yang mengikuti kelas “pengayaan” lain, termasuk kelas pemecahan masalah dengan komputer atau kelas menulis kreatif. Maka ia berani menyimpulkan catur meningkatkan kemampuan berpikir kritis bagi anak-anak dibanding metode kelas pengayaan lainnya.

Sejak program Dr Ferguson berjalan sejak September 1987 hingga Mei 1988 seluruh siswa kelas 6 di daerah pedesaan Pennysylvania memutuskan mengambil kelas catur. Sebab, hasilnya benar-benar nyata. Peningkatan hasil ujian siswa untuk kemampuan menalar dan mengingat, terbukti terus naik. (Bersambung)

*****

Magnus Carlsen, Bocah Ajaib dari Norwegia

5 September 2008


Pecatur 17 tahun Magnus Carlsen menghabiskan waktu usai sekolah seperti kebanyakan remaja picisan pada umumnya.



Ia mendandani ranjang tidur dengan seperai kuning menyolok mata di kamarnya, di kawasan pinggiran kota Oslo. Setelah itu ia asyik tenggelam di depan komputernya hingga waktu lama.

“Mungkin saya lebih banyak menghabiskan waktu melakukan chatting dengan orang lain,” ujarnya seraya tersenyum.

Ia seharusnya tidak boleh terlalu keras pada dirinya sendiri.

Ketika chatting, Magnus selalu menyelanya dengan tetap bermain catur. Ia mempraktikkan catur secara online sehingga membantu dirinya bertahan di peringkat 6 besar dunia. Dan, bukan tak mungkin ia akan menyabet peringkat pertama catur dunia jika berhasil memenangkan Grand Slam Chess Final Master yang dimulai pekan ini di Bilbao, Spanyol.

Keyakinan Magnus menjadi pecatur nomer satu dunia  tak hanya muncul di Norwegia, sebuah negara berpenduduk 4,5 juta jiwa. Tetapi juga dari pecatur-pecatur tersohor lainnya.

Seorang pesaing terkuatnya di Bilbao, Visnawathan Anand, juara dunia dari India dan peringkat pertama FIDE, juga mengatakan Magnus merupakan calon juara dunia catur masa depan. Begitu juga dengan Garry Kasparov, juara catur yang tempatnya digantikan Anand.

Ketika Magnus diingatkan akan harapan orang banyak tentang masa depannya di dunia catur, ia tak bereaksi apa-apa. Secara pribadi ia tetap seorang pemalu, selalu berbicara lembut, dan menghindari kontak mata. Sifatnya mirip pecatur terbaik dunia pada umumnya, termasuk sifat Anand.

“Anand bermain lebih baik dari saya,” katanya merendah.

Kejujuran itu tak sepenuhnya keliru. Ia memang bukan satu-satunya anak ajaib yang muncul di tahun-tahun terakhir.  Kini, pecatur modern –dengan bantuan komputer canggih untuk berlatih, dapat mengakses data pertandingan ratusan tahun lalu dan bermain catur secara online tanpa batas— dapat menyabet gelar grand master lebih muda ketimbang pecatur sebelumnya.

Ketika Magnus meraih gelar Grand master pada usia 13 tahun, dua pecatur belia lainnya, Sergey Karjakin dari Ukraina dan Parimarjan Negi dari India, menyabet gelar serupa dalam usia lebih muda.  Sementara, 17 tahun lalu, lusinan pecatur memerlukan waktu 40 tahun untuk mematahkan rekor Bobby Fischer, juara dunia dari Amerika Serikat. Fischer meraih gelar Grand Master pada usia 15 tahun.

Tapi Magnus istimewa karena bisa bertahan di jajaran pecatur elit dunia hingga sekarang. Gaya permainan dan pengorbanannya memang tak biasa. Sejak bermain catur pada usia 8 tahun, Magnus  menyukai taktik posisioning yang kompleks. Situasi permainan ini membuatnya nyaman.

Sedangkan bagi lawannya, meski dia seorang pecatur terbaik sekali pun, sering kali harus menyerah karena kelelahan dan putus asa. Magnus memang memiliki mental pecatur yang tangguh.

Selama bermain, Magnus mengaku sering kehilangan konsentrasi. Tetapi kemudian ia akan mengheningkan cipta sambil berkata pada dirinya sendiri: “Kau tidak mau kalah dalam permainan ini sebagai idiot kan? Maka, keluarkan semua kemampuanmu sekarang.”

Kebanyakan pecatur merasa kecewa saat kalah. Kekecewaan ini bisa panjang, sehingga perasaan itu terbawa dalam permainan berikutnya. Sementara, bagi Magnus, kekalahan  dalam catur tak membuatnya larut dalam kekecewaan panjang.

“Saya lebih kecewa jika kalah dalam permainan di luar catur,” ujarnya.

“Saya selalu kecewa jika kalah dalam permainan Monopoli,” katanya.

Itulah perasaan yang dialami Magnus saat saudara-saudara perempuannya mengalahkan dia dalam permainan Monopoli.

Situasi persaingan memang terasa kental di rumahnya, bahkan sudah mirip sebuah etos. Ayahnya, Henrik, adalah seorang konsultan teknologi  informasi yang menghabiskan waktunya bersama anak-anaknya saat tak bekerja. Ibunya, Sigrun Carlsen, seorang Insinyur Kimia. Keduanya sama-sama aktif bekerja, tetapi sekaligus membumi.

Magnus memiliki tiga saudara perempuan: Ellen (19), Ingrid (14) dan Signe (11). Ingrid berkata saudara laki-lakinya sering mencekik, mengusik, sehingga kelakuan kakak laki-lakinya itu tak ubahnya seperti iblis.

“Apa yang diharapkan dari saudara laki-laki jika tak mencekik,” kata Magnus polos.

Kisah tentang bocah ajaib memang kerap diawali dari sebuah eureka, sebuah penemuan, ketika anak itu menunjukkan bakat tersembunyinya dalam sebuah permainan. Minat Magnus dapat terlacak sejak kompetisinya dengan kakaknya, Ellen.

Ayah kandungnya, seorang pecatur bagus untuk tingkat turnamen, mencoba mengajar Magnus dan Ellen bermain catur lebih serius. Inilah awal Magnus mulai bermain catur. Meski motif awal Magnus adalah mengalahkan kakak perempuannya.

Suatu hari, saat Magnus berumur 8 tahun, ia menantang Ellen bermain catur, dan menang.

“Yang menyedihkan dari peristiwa itu,” kenang ayahnya, “kakaknya memilih berhenti bermain catur. Padahal permainan ini sudah ia pelajari selama empat tahun.”

Sementara, permainan bocah lelaki itu justru makin berkembang pesat. Ia mulai secara reguler ikut di sejumlah turnamen catur, dan kemajuan permainannya sungguh menakjubkan. Setahun setelah mengikuti turnamen pertamanya melawan pecatur seusianya, ia mulai ikut turnamen catur orang dewasa dan berhasil mengalahkan mereka.

Selama beberapa saat ia sempat belajar dengan Simen Agdestein, seorang grand master dan bekas juara catur Norwegia. Tapi, sekarang, Magnus sudah jauh melampaui kemampuan gurunya.  (IHT/SM)

Bagi Pembaca

21 Juli 2008


Dear pembaca…

Dengan surat ini saya meminta maaf karena blog ini mulai jarang di-update. Alasannya apa lagi kalau bukan kesibukan di tempat kerja. Doakan saja pengasuh akan bisa menulis lagi.


Salam
pengasuh
in chess we trust

"menulis catur dengan perspektif berbeda"

Pertahanan India

26 Juni 2008Oleh: Viswanathan Anand )*
Juara dunia catur, GM Viswanathan AnandDari manakah asal-usul permainan catur? Bagi banyak pecatur tingkat tinggi, pertanyaan ini tak hanya persoalan sejarah –namun juga terkait erat dengan soal kepemilikan dan dominasi. Kita memang kerap kehilangan kesadaran universal tentang asal-usul permainan 64 petak hitam-putih ini, seperti halnya saat  kita bergerak untuk membuat perubahan di dunia.  Maka, tak mengherankan, sangat mudah bagi bangsa Rusia ketika mengklaim sejarah catur dimulai saat mereka mulai memainkannya.

Pada tahun 1991,  saat saya mengikuti turnamen internasional untuk kali pertama, di Reggio Emilia, Italia utara. Ketika itu seorang Grand Master (GM) Rusia mengatakan saya lebih  cocok menjadi pecatur di kedai kopi. Alasannya,  karena saya tak pernah menimba ilmu di sekolah catur Rusia. Pada masa itu pecatur Rusia memang tengah mendominasi catur dunia. Dengan arogansi khas anak muda –-saat itu saya berumur 21 tahun– saya pun membela diri, “Tetapi bukankah kami di India yang menemukan catur pertama kali? Lantas, kenapa jalan yang saya tempuh sekarang tak bisa membuat saya menjadi pecatur terbaik dunia?”
CaturSaya membutuhkan waktu 17 tahun untuk sampai ke jalan itu. Dan, sepanjang itu pula saya sudah terlibat ratusan percakapan tentang asal-usul catur –-baik dengan pemain, penggemar, petugas turnamen, supir taksi, tukang cukur dan banyak orang lainnya yang kebetulan duduk di sebelah saya dalam sebuah pesawat. Saya mendengar berbagai klaim tentang asal-usul catur. Klaim itu datang dari Rusia, China, Ukraina, negara Arab, Iran, Turki, Spanyol dan Yunani. Menurut saya, olahraga ini memang selalu diklaim setiap pecatur. Tetapi pertanyaan tentang asal-usul catur sebenarnya amat mudah dijawab: catur berasal dari India.

Klaim ini tidak berlandaskan pada faktor dominasi –meski sekolah di India kini menghasilkan banyak pemain berkualitas tingi, termasuk (ehem…!), pecatur nomer satu dunia. Beberapa referensi tertua tentang catur memang bisa ditemui dalam naskah kuno India. Dalam epik Ramayana (menurut beberapa sumber, kisah ini sudah dituturkan secara lisan antara 750-500 Sebelum Masehi) dituturkan, raja raksasa Rahwana menantang istrinya, Mandodari, dalam permainan catur. Berkat kecerdasannya, Mandodari berhasil mengalahkan suaminya. Nenek saya menuturkan kisah ini saat saya mulai bermain catur pada usia 6 tahun. Permainan catur juga terdapat dalam Asthastra (abad 3 SM), sebuah naskah politik tertua. Penulisnya, Chaknaya, mengambarkan catur sebagai sebuah permainan strategi perang, dengan nama chaturanga, serta dimainkan dalam papan segi empat yang terdiri dari 8 x 8 bidak. Barangkali permainan ini memang merupakan permainan perang virtual pertama dunia.

Saya percaya catur menyebar luas ke Barat dari India melalui wilayah yang sekarang disebut Afghanistan lalu ke Persia, pada era Kekaisaran Sassanid, –seorang raja India yang suka mengirim papan catur sebagai hadiah ke koleganya di Persia.  Di kerajaan Ctesiphon, permainan ini disebut chatrang. Penduduk Arab lalu mulai memainkannya (mereka menyebutnya shatrani) saat permainan ini tiba pada abad ke 6 Masehi.

Permainan ini lalu menyebar ke Afrika. Mereka juga memperkenalkan permainan ini ke Eropa saat suku Moor melintas Selat Mediteran menuju Semenanjung Iberia. Permainan ini langsung populer di kaum Mooris, Spanyol. Permainan ini biasanya dimainkan di pinggir jalan –sebuah kebiasaan yang hingga sekarang bisa ditemui di seluruh sudut dunia.
Simbol Bishop/Patih dalam catur modernIberia mengalami perubahan drastis setelah abad 15, saat kekuatan Katolik yang dipimpin Ratu Isabella I  menyerbu –dan permainan catur juga berubah. Di atas papan, Ratu jadi buah terpenting. Uskup Katolik (bishop)/patih menggantikan simbol unta. Dan tempat bishop berada di sisi Raja dan Ratu. Aturan baku permainan catur modern pun ditetapkan Ratu Isabella. Pada masa itu pecatur Spanyol Luis RamIrz Lucena juga menulis buku pertama teori catur. Posisi Lucena sampai sekarang dikenal sebagai posisi benteng di sudut papan yang mengawal langkah akhir pion.

Ironisnya, Rusia justru merupakan negara terakhir di Dunia Lama yang mengenal permainan catur. Permainan itu masuk melalui rute perdagangan sungai Volga. Permainan ini mencapai puncak popularitasnya pada masa Peter Agung. Tapi perkenalan negara ini paling belakangan dengan catur tak menghentikan langkah Rusia untuk menjadi kekuatan super power dalam catur. Dominasi Rusia itu berlangsung terus sampai tahun 2000, saat seorang pecatur India akhirnya berhasil menyabet gelar juara dunia catur dan mengembalikan supremasi catur ke negara kelahiran catur itu sendiri.

Saya pikir puncak pencapaian karir saya memang mencerminkan perjalanan panjang sejarah catur. Saya mulai belajar catur di India, lalu ke Spanyol sehingga saya bisa mengikuti sirkuit turnamen Eropa, dan memenangkan gelar juara dunia pertama saya di Iran.  Sangat menyenangkan saat tempat tinggal anda dalam sejarah catur memiliki sesuatu yang khusus dalam sebuah potret besar permainan bernama catur ini.


)* Viswanathan Anand, 39 tahun, adalah Grand Master asal India yang sekarang menjadi juara dunia catur.
****
Lihat juga:
Pilihan Jurnalis: Anand Pecatur Terbaik 2007
Catur sebagai Peperangan
 Saat Elmaut Menolak Tawaran Draw Soeharto

Asal-Usul Catur
Catur sebagai Permainan Strategi 

****